Pengamen Ondel-Ondel Dilema Melestarikan Budaya atau Degradasi Nilai Budaya

Saya Bukan orang asli Betawi, tidak pula besar di tanah betawi, hanya kebetulan memperoleh berkah rejeki kehidupan di Tanahnya Bang Pitung ini, namun saya tertarik untuk membahas mengenai sebuah karya Kebudayaan dari Betawi yang menurut saya secara pribadi memiliki kondisi yang saat ini sangat dilematis, Ondel-ondel. Tapi Sebelum kita membahas jauh mengenai se-“dilematis” apa ondel-ondel ini menurut pandangan saya, kita Tarik ke belakang tentang munculnya ondel-ondel ini dan maknanya untuk orang Betawi itu sendiri.

Dikutip dari laman Wikipedia, ondel ondel sendiri adalah bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat. Tampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa. Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar 2,5 meter dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambuyang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalamnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya dicat dengan warna merah, sedangkan yang perempuan warna putih. Bentuk pertunjukan ini banyak persamaannya dengan yang ada di beberapa daerah lain.

Sebenarnya Ondel-ondel adalah tokoh yang di hilangkan pada sendratari reog versi wengker dari Ponorogo adalah tokoh sepasang mahluk halus dengan tubuh raksasa, tetapi karena mengganggu perjalanan Singo Barong. maka dikutuklah merka menjadi Burung gagak dan burung merak dalam bentuk raksasa pula. Namun pada pemerintahan Batara Katong, tokoh-tokoh yang tidak terlalu penting di hilangkan. Di dalam kesenian Jathilan jawa tengah di kenal dengan Gendruwon gede, di Pasundan dikenal dengan sebutan Badawang, yang sudah ada sejak paska perang bubat yang di bawa pejabat sunda yang masih hidup dengan membawa Angklung Reyog, sedangkan di Bali lebih dikenal dengan nama Barong Landung yang merupakan jenis Barong Bali yang di Bawa raja Airlangga saat menyelamatkan diri. Menurut perkiraan jenis pertunjukan itu sudah ada sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa. Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, misalnya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel masih bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta. Jaman dahulu, Ondel-ondel juga merupakan symbol kekuatan prestisius seseorang, bukan orang berada kalau dalam menghelat suatu hajat tidak memasang Ondel-Ondel.

Namun itulah jaman, kadang perkembangan kehidupan itu membuat suatu hal menjadi lebih baik atau bahkan sebaliknya, belakangan saya menyaksikan dan merasakan sendiri satu fenomena yang menurut saya sangat dilematis, kenapa jadi satu dilemma?? Iya…disatu sisi saya sangat bangga dengan anak-anak muda, yang sering dilabeli dengan sebutan Kids jaman Now yang dengan sangat fasih memainkan alat music gesek Tehyan, bahkan memainkan melodi yang sangat variatif, menabuh gendang yang ritmis dengan begitu lincahnya, dan memasukkan tubuhnya ke dalam ondel-ondel itu sendiri dan menari dengan begitu menikmatinya.  Di sisi itu kebanggaan saya akan keinginan anak-anak muda ini untuk melestaruikan Budaya Betawi yang begitu luar Biasa besar. Namun di sisi lain ada sebuah keprihatinan yang begitu menggelora dalam diri saya adalah karena proses dan media Pelestari Budaya itu adalah lewat jalan menggunakan ondel-ondel dan bebeapa alat music tradisional itu untuk mengamen, Saya mencoba mencari tahu kapan pastinya  fenomena pemngamen Ondel-ondel ini mulai bertebaran di Jalanan dan perkampungan Ibukota, namun memang tidak ada satu data ataupun artikel pasti yang menyebutkan hal tersebut, hanya saja kalau saya tidak salah ingat, mulai menjamurnya pengamen Ondel-Ondel ini di sekitaran tahun 2010.

Baik, sekarang pertanyaannya kenapa mengamen dengan Media Ondel-ondel ini menjadi satu hal yang membuat saya beranggapan itu adalah satu pergeseran atau degradasi dari Nilai Budaya. Kalau kita menelaah makna Budaya yang adalah hasil cipta karya dan karsa yang tertinggi dari Manusia atau sekelompok manusia, artinya adalah bahwa budaya itu adalah satu perjalanan kontemplasi yang sangat panjang dari satu manusia atau sekelompok manusia sehingga menghasilkan satu wujud baik pemikiran, karya ataupun nilai. Nah, kalau kita melihat itu dari perspektif Ondel-ondel yang digunakan sebagai sarana untuk mengamen, saya melihat itu sebagai satu degradasi nilai Budaya itu sendiri, sebuah karya Seni Budaya yang begitu luhur, namun dengan begitu sepelenya digunakan untuk mengamen. Dan suka tidak suka, Masyarakat kita masih menganggap pengamen dan mengamen itu sebagai sebuah pekerjaan yang bukan dapat dikatakan baik.
inilah dilemanya, kebanggaan akan anak muda yang melestarikan budaya namun dengan media yang kurang tepat menurut saya.

Dimana letak salahnya dan harus apa? Itu kemudian pertanyaan yang sebaiknya menjadi perenungan bagi kita semua, bukan hanya pemerintah atau mereka yang mengaku sebagai penggiat Budaya Betawi. Kenapa anak-anak itu mengamen??? Apakah tidak ada wadah ataupun sarana yang memberikan ruang mereka dalam melestarikan Budaya itu dengan jauh lebih baik??

Share this :
Written by: