Kamar Mandi Kontrakanku (Part 1)

Kisah ini terjadi ketika penulis masih muda, masih kurus, masih gondrong, belum kerja di digital agency jakarta. Baru sekarang terpikir untuk ditulis karena usai menonton Stranger Things Season 1 – 2 marathon. Konsep upside down world dalam serial itu seperti menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi ketika itu, dan mendadak semua detail pada hari itu kembali tergambar jelas.

Saat itu penulis sedang kuliah di salah satu perguruan tinggi di kota Bandung. Mengontrak satu rumah besar di kawasan Bandung Utara yang dihuni oleh 12 orang rekan yang kuliah di jurusan yang sama, walaupun berbeda angkatan.

Rumah ini bukan rumah tua, tidak ada nuansa horor dari rumah ini. Biasa aja, rumah besar dua lantai yang masing-masing lantai memilliki enam kamar tidur. Setiap lantai memiliki dua kamar mandi, ruang makan di lantai satu, sedangkan ruang TV di lantai dua. Biasa aja.

……….

Di hari itu penulis bangun agak pagi, padahal pagi itu sedang gak ada kuliah. Saat itu pagi di Bandung Utara masih dingin, lantai keramik di luar kamar sangat gak nyaman untuk dijejak bertelanjang kaki. Karena itu ketika membuka pintu kamar, pandangan sudah menatap ke bawah depan pintu untuk mencari alas kaki, daan gak ada. Ini nih penyakitnya anak-anak kost, sendal dipinjem, hilang, ketuker, nyasar, biasa banget. Dan entah kenapa biasanya para sendal tuh akhirnya suka ngumpul di bawah meja makan.

Gak berbeda dengan pagi itu, ketika menengok ke bawah meja makan yang hanya berjarak 2 langkah dari pintu kamar, terlihatlah sendal jepit kesayangan ada di situ. Dengan setengah terhuyung karena baru bangun, berjalanlah penulis ke arah meja makan dengan pandangan masih menatap ke arah sendal jepit. Duduk di bangku meja, kaki dipasangkan ke sendal dengan sedikit mendorong-dorong dua pasang kaki lain yang ada di bawah meja. “Pagi-pagi udah rese nih anak-anak, segala pake diinjek lah nih sendal jepit”, sungut penulis dalam hati.

Ketika akhirnya kaki berhasil dipasangkan ke sendal, pandangan mulai menatap lurus, setelah sebelumnya menunduk menatap kolong meja. Alangkah bingungnya penulis, karena di hadapannya, di sisi meja yang ada di seberangnya hanya ada Nirwan, satu orang. Pandangan kembali mengarah ke bawah meja, benar ada 2 pasang kaki!

Loh?!!

Ketika kembali menatap Nirwan, mungkin raut muka penulis terlihat aneh, karena Nirwan mulai bertanya “Nape lu?”. Menengok lagi ke bawah meja, kali ini hanya ada 1 pasang. Mata dipejam, kepala digeleng-geleng, tetap 1 pasang kaki. Kembali menatap Nirwan, lalu kembali menengok ke bawa, tetap 1 pasang. Fiuuh..

“Heh! Nape lu?”.

“Gak apa, masih ngantuk kali”, tukas penulis.

649-08987968

Mungkin faktor B, belek, yang masih nempel di mata bikin penglihatan jadi siwer. Kopi rasanya bisa jadi solusi. Segeralah penulis beranjak ke meja kopi yang ada di sebelah meja makan untuk membuat secangkir kopi.

Meja kopi ini menempel ke dinding. Pagi yang cerah dengan cahaya matahari yang masih rendah menampilkan bayangan penulis secara jelas ke dinding itu. Kopi sudah jadi, penulis kembali mengarah ke meja makan untuk duduk ketika mendadak langkahnya terhenti. Tangannya lemas, cangkir yang sedang dipegangnya mendadak terasa berat. Ada yang aneh..

Bayangannya tadi salah!! Bayangan yang penulis lihat di dinding sebelah meja kopi saat tadi membuat kopi itu salah!!

……….

 

Selanjutnya menyusul ya, pegel trus ada deadline juga.

 

 

 

 

 

 

 

Share this :

Recent Post

Written by:

Seorang petualang yang menghabiskan hidupnya di beberapa puncak tertinggi di dunia. Tak kurang dari puncak Kangchenjunga, Nanga Parbat, Ulugh Muztagh, telah ditaklukannya. Hebatnya lagi semua itu dilakukan dalam tidurnya sambil makan oreo.