Kamar Mandi Kontrakanku (part 3)

Pak, pok, pak, pok.. Pipi terasa panas. Muka Nirwan ada tepat di depan mata. “Woy… woooy.. Nape luu?”.Ternyata ada Berry juga di belakang Nirwan. Tumben dia udah bangun pagi-pagi gini.

“Iya, kenapa ya? Tadi gimana sih? Gue jatoh ya?”, pikir penulis.

Oh iya, seringai yang tadi!!

Penulis bergegas bangkit dan bergerak setengah merangkak menjauh dari kamar mandi. Berry dan Nirwan yang bingung mengikuti sambil sesekali menengok ke arah kamar mandi.

Duduk di bangku makan, penulis menceritakan seringai tumpukan hitam yang tadi dilihatnya. Sebelum sempat penulis cegah, Nirwan sudah mengambil kursi yang tadi terguling dan memanjatnya untuk melongok ke dalam kamar mandi. Turun dari kursi, dicobanya membuka pintu kamar mandi. Gak bisa, terkunci.

“Kuncinya dipegang kang Surya”, kata Berry. Kang Surya adalah pemilik rumah yang kita sewa.

……….

Sore harinya, kita sepakat untuk pinjam kunci kamar mandi ke kang Surya. “Bilang aja kita mau bersihin, bau tai tikus”, kata Tri yang paling senior diantara kami. Sore itu kita berkumpul membicarakan mengenai kejadian tadi pagi. Hanya 7 orang yang kebetulan sedang ngumpul di ruang TV.

Sebenarnya kita sempat berpikir apa kang Surya tahu ada sesuatu di kamar mandi itu. Makanya dikunci dan kita gk dikasih kuncinya. Tapi sepertinya kang Surya gak tau apa-apa. Malam itu kita berkunjung ke rumahnya, dan kuncinya dipinjamkan ke kita tanpa pertanyaan macam-macam, hanya pesan supaya langsung dikembalikan supaya gak keselip.

……….

Besok paginya, penulis putuskan untuk gak masuk kuliah pagi. Bersama 5 orang yang pagi itu sudah bangun, pintu kamar mandi itu kita buka untuk pertama kalinya dalam 2 tahun.

Debu, bau tai tikus.

Lampu kita pasang, dan ternyata saklarnya masih berfungsi. Ruangan itu jadi terang dan semua isinya terlihat dengan jelas. Bongkaran dipan, tumpukan ban, kardus2 keramik lantai, kloset bekas, dan beberapa kardus lainnya.

“Lagian gak mungkin ada barang di balik pintu, gimana naronya coba. Kan pintunya ngebuka ke dalam”, kata Tri setengah ngeledek di meja makan. Penulis hanya bisa diam, seringai dan raut muka itu masih jelas teringat. Dan jelas-jelas di balik pintu itu ada ‘tumpukan’ barang.

Sesaat kemudian Wawan keluar dari kamar mandi, ada yang dibawanya. “Ini bukannya sepatu maneh (red. maneh = kamu)?”.

Iya, bener itu sepatu Dr. Marteen yang kala itu sedang populer, yang penulis punya cuma KW-nya, tapi mirip laah. Warna coklat tua dengan jahitan benang warna kuning tua, nomor 42, dan di bawah solnya ada cetakan ‘Dr. Martoon’, KW buatan cibaduyut. Hanya saja kondisinya mengenaskan, penuh debu, kulitnya pecah-pecah, solnya retak.

“Nih ada yang lain nih”, kata Wawan setengah berteriak dari dalam kamar mandi.

Kita saling berpandangan, di hadapan kita ada sepatu Dr. Martoon, 3 celana jean Levi’s 501, dua piringan hitam the Doors, notes kulit, beberapa kaos, sepatu, dan penggaris besi. Semua tersusun rapih namun dalam kondisi yang mengenaskan, penuh debu, seolah tidak terpakai selama bertahun-tahun.

……….

Dalam 6 bulan terakhir, hubungan antara kami penghuni kontrakan sedang gak rukun. Banyak barang hilang yang menyebabkan kami saling tuduh. Tidak menuduh sesama penghuni, tapi lebih ke siapa yang lupa ngunci pintu depan, atau si anu yang kemarin datang itu temannya siapa. Hary, anak bupati Tegal, bahkan sedang mencari-cari rumah lain untuk dikontrak sendiri. Pindah. Maklum horang kaya, barangnya yang paling banyak hilang, termasuk 3 celana Levi’s 501 yang baru ditemukan. Bagi kami mahasiswa, Levi’s 501 is the Holly Grail of pergaulan kampus. Saat itu harganya sama dengan 2 bulan uang makan. Beuh..

……….

Sebagian besar barang hilang yang menyebabkan kami tidak rukun itu kini kami temukan, namun dalam kondisi yang seolah sudah tidak terpakai selama bertahun-tahun. Berdebu, lapuk, berjamur, retak, tidak bisa digunakan. Kecuali piringan hitam the Doors milik Reza yang kemudian diputarnya berulang-ulang sepanjang hari dari dalam kamar.

Banyak teori yang kami lontarkan, mulai dari time travel, alternate dimension, mini black hole, jamur pembunuh, transporter beam, dan berbagai teori science fiction lainnya.

Apapun itu yang jelas kita jadi rukun lagi dan Hary gak jadi pindah. Udah gak ada lagi barang yang hilang. Seringkali dalam canda kita juga menyapa  ‘penghuni lain’ yang kami yakini tinggal di rumah itu, dalam dunia yang berbeda.

Dua tahun kemudian kami terpaksa meninggalkan rumah itu dan tinggal terpencar-pencar, karena rumah itu akan dijadikan kost-kostan yang lebih menguntungkan. Namun saat rumah itu mulai dirubuhkan, kita ada disana, melihat dari jalan sambil becanda apakah kira-kira di ‘sisi lain’ rumah itu juga sedang dirubuhkan. Mendoakan semoga ‘penghuni lainnya’ juga sudah mendapatkan tempat tinggal yang baru.

……….

Beberapa tahun yang lalu, penulis mengunjungi lokasi rumah kenangan itu dan kini sudah berdiri megah kost-kostan 4 lantai.

Semoga disitu gak ada barang yang suka hilang, hehe..

upsidedown

Share this :
Written by:

Seorang petualang yang menghabiskan hidupnya di beberapa puncak tertinggi di dunia. Tak kurang dari puncak Kangchenjunga, Nanga Parbat, Ulugh Muztagh, telah ditaklukannya. Hebatnya lagi semua itu dilakukan dalam tidurnya sambil makan oreo.