Kamar Mandi Kontrakanku (part 2)

Saat sedang berdiri mematung ini, terlihat dengan jelas bahwa bayangannya mengarah ke arah yang berlawanan dari dinding. Begitu pula dengan benda-benda lain di ruangan itu. Tidak mungkin ada bayangan yang bisa jatuh ke dinding itu, karena ini pagi hari, matahari ada di arah yang berlawanan!

Dengan sedikit bergetar, penulis meletakkan cangkirnya di atas meja dan pelan-pelan membalikkan badan untuk melihat ke arah dinding itu.

Putih polos, gak ada bayangan apa pun. Penulis kembali ke meja kopi, menempatkan diri di posisi yang sama saat tadi membuat kopi. Gak ada bayangan apa pun.

Tangan dikibas-kibaskan, jongkok, berdiri, jongkok, berdiri, mengubah-ubah posisi dengan harapan dapat menampilkan bayangan di dinding itu. Penulis berkeliling ruangan, mencoba berbagai lokasi, mencermati arah cahaya, intinya mencoba merekonstruksi bayangan di dinding itu. Tidak ada, atau tepatnya, tidak bisa.

Ketika sedang mengubah-ubah posisi dan lokasi, tiba-tiba terdengar suara keras di salah satu kamar mandi di lantai itu. Braaakkk! Seperti ada kucing jatuh di plafond.

………

Sejak kami mengontrak rumah ini, ada satu kamar mandi yang rusak dan diubah fungsinya menjadi gudang oleh sang pemilik. Kamar mandi ini dikunci, dan kuncinya dipegang oleh pemilik rumah. Kami tidak pernah mempertanyakan isi kamar mandi ini, atau mempermasalahkan kenapa kok tidak diperbaiki tapi malah ditutup dan dijadikan gudang. Kami juga tidak pernah curiga atau ingin tahu apa saja isinya.

Tapi kali ini suara keras itu seolah mengundang penulis untuk memeriksanya

……….

Penulis mengambil kursi dan memanjatnya untuk memeriksa ke dalam kamar mandi. Di atas pintu kamar madi terdapat kusen kayu untuk lubang angin. Di kamar mandi yang lain lubang itu ditutup kaca buram, namun di kamar mandi ini tidak ada kaca yang terpasang.

Dengan memanjat kursi dan melongok melalui lubang angin, isi kamar mandi ini dapat dengan mudah dilihat. Memang gelap karena tidak ada penerangan, namun dengan sedikit penyesuain mata, isi kamar mandi dapat terlihat walau samar.

Di dinding kiri terdapat bongkaran dipan, sisi kanan ada beberapa ban mobil yang ditumpuk, serta kardus-kardus lain. Lalu tepat di bawah penulis, di balik pintu, ada tumpukan barang-barang yang masih sulit teridentifikasi karena terlalu gelap. Penasaran, penulis memicing-micingkan mata untuk dapat melihat lebih jelas hingga akhirnya terlihat…

‘Tumpukan’ itu menyeringai..!

Kaget! dan semua jadi gak fokus…

……….

grinningshadow

Share this :
Written by:

Seorang petualang yang menghabiskan hidupnya di beberapa puncak tertinggi di dunia. Tak kurang dari puncak Kangchenjunga, Nanga Parbat, Ulugh Muztagh, telah ditaklukannya. Hebatnya lagi semua itu dilakukan dalam tidurnya sambil makan oreo.