Meme dalam Digital Marketing

stop-making-memes-and-get-back-to-work

Meme sudah menjadi kata yang lumrah di dengar, terutama bagi mereka yang merupakan generasi digital native. Tapi apakah sebenarnya meme itu? Kata “meme” lahir pada tahun 1976 yang dicetuskan oleh Richard Dawkins dalam bukunya yang berjudul The Selfish Gene. Dawkins mencirikan meme sebagai sebuah kreativitas yang dibuat oleh manusia di internet.

 

Berdasarkan Wikipedia, Meme (/mi:m/meem) adalah gambar, video, frasa atau bahkan kombinasi dari ketiga elemen tersebut yang diviralkan melalui media sosial dan blog. Sering kali Meme memiliki makna yang tersembunyi yang lucu dengan sedikit bumbu satir.

 

Meme tidak memiliki batasan, setiap orang bebas membuat meme sesuai dengan kreativitasnya masing-masing. Hal ini yang mendorong perubahan meme dari masa ke masa. Tidak hanya sekedar humor atau satir tapi juga menjadi “Kartu As” bagi brand untuk memasarkan produknya. Khususnya kepada generasi Y dan Z yang melek teknologi.

 

Tapi apakah membuat meme untuk brand semudah membuat meme biasa? Jawabannya tidak. Mengapa?

 

  1. Meme memiliki jangka hidup yang pendek

Meme merupakan jalan pintas yang brilian untuk membuat sebuah pop culture menjadi viral dalam hitungan menit. Namun, perlu diketahui banyaknya meme yang membombardir internet membuat orang menjadi cepat bosan terhadap jenis meme yang sama. Makanya tidak sedikit meme yang hanya bertahan satu minggu. Contohnya seperti Harlem Shake yang hanya bertahan satu minggu.

 

Fakta ini yang harus diperhatikan oleh brand jika ingin memasarkan produknya dengan menggunakan meme. Sementara tujuan menarik perhatian target audience belum tercapai tapi meme-nya sudah tenggelam di dasar dunia maya.

 

  1. Risiko “Memejacking”

Menurut Business News Daily, “memejacking” adalah ketika brand menggunakan meme yang sudah ada sebagai strategi marketing. Hal ini dilakukan untuk menggapai target audience yang lebih muda, tapi ini tidak mudah dilakukan.

 

Memejacking sangat berisiko karena brand bisa terlihat mencoba terlalu keras sehingga terlihat “norak” di mata target audience atau kasus terburuknya brand menjadi tenggelam diantara meme serupa. Meskipun begitu, strategi ini salah satu yang paling populer.

 

  1. Meme Harus Lucu

Seperti yang sudah dikatakan di awal bahwa meme memiliki makna tersembunyi yang lucu dan sering dibumbui dengan satir. Sadar atau tidak, membuat sebuah humor perlu bakat. Sebelum mencoba membuat meme yang didedikasikan untuk brand, cobalah bertanya kembali pada diri sendiri “Apakah selera humor saya cukup bagus?”. Jika tidak, sebaiknya urungkan niat untuk menggunakan meme sebagai strategi marketing.

 

  1. Kenali Meme yang akan digunakan

Sebelum menentukan meme apa yang ingin digunakan untuk diasosiasikan dengan sebuah brand, ketahui terlebih dahulu makna sebenarnya terlebih dahulu. Jangan sampai menggunakan meme yang memberi makna negatif terhadap brand.

 

Lalu apakah ada yang menggunakan meme sebagai strategi marketing di Indonesia?

 

Tentunya ada dan cukup banyak. Penggunaan meme sebagai strategi marketing di Indonesia didominasi oleh industri perfilman. Contoh yang paling baru dan terbilang cukup sukses adalah film Pengabdi Setan dengan meme #IbuSudahBisa.

 

Meme lucu #IbuSudahBisa berawal dari kicauan Joko Anwar, yang mengajak netizen untuk berkreasi dengan gambar Ibu. Ia juga mengunggah gambar Ibu, yang akhirnya menjadi viral di internet.

 

Warganet memberikan respons positif terhadap ajakan tersebut. Mereka tampak memindahkan sosok Ibu ke berbagai tempat, mulai dari kolam renang hingga ring tinju. Alhasil, sosok Ibu yang terlihat seram berubah menjadi gambar-gambar lucu.

 

Hal ini yang memicu rasa penasaran orang untuk menonton film Pengabdi Setan dan sukses meraup 3juta penonton dalam 20 hari penayangannya.

 

Melihat hasil yang dicapai Pengabdi Setan, siapa yang tak akan tergiur menggunakan meme sebagai strategi marketing. Siap membuat meme untuk brand kamu?

Share this :

Recent Post

Written by: