10 Jenis Copywriting Kreatif nan Efektif

Copywriting adalah karya artistik yang membutuhkan kreativitas, jiwa seni, bakat, dan penguasaan materi yang baik. Copywriting yang artistik memungkinkan kita membuat konten pemasaran yang tidak hanya praktis dan persuasif, namun juga inspiratif.

Namun copwriting juga merupakan karya ilmiah yang membutuhkan serangkaian uji coba, keberhasilan dan kegagalan, perbaikan, terobosan, pembelajaran, serta kemampuan analisa dan prediksi.

Copywriting yang baik merupakan kombinasi antara karya artistik dan ilmiah.

Kombinasi antara karya artistik dan ilmiah pada copywriting dapat hadir dalam berbagai jenis gaya penulisan copy. Berikut adalah beberapa jenis copy yang umum kita jumpai.

1. Copy Sederhana
Pendekatan paling dasar untuk menulis copy yang efektif adalah dengan memperkenalkan produk tanpa tipu muslihat atau gaya. Presentasi sederhana dari fakta dan manfaatnya.

Tidak ada cerita. Tidak ada percakapan. Tidak ada “desis” dan tidak ada klaim superlatif.

Contoh yang paling tepat? Copy pada halaman Google Analytic

Copy semacam ini bukanlah karya sastra, tetapi dapat secara efektif menyampaikan pesan/informasi dengan baik. Copy semacam ini akan memberi informasi yang dibutuhkan untuk membuat keputusan yang tepat tentang produk tersebut.

 

2. Copy yang Bercerita
Semua orang senang membaca cerita yang bagus.

Kita senang mendengar kisah tentang seseorang yang mengalami penderitaan, cobaan, dan tantangan, serta bagaimana ia mengatasi hal tersebut.

Lalu? Kebetulan, produk kita merupakan solusi terbaik untuk mengatasi masalah-masalah tersebut.

Kita seringkali menemukan teknik bercerita semacam ini pada email, landing page, atau video-video pendek. Apa pun formatnya, pada umumnya kita akan mendapati empat bagian dasar dalam cerita tersebut:

  1. Pembukaan: Memperkenalkan rasa sakit. Perlihatkan bagaimana karakter cerita pada awalnya memiliki kehidupan yang normal, lalu bagaimana kehidupan yang normal itu dihancurkan oleh perubahan peristiwa yang terjadi.
  2. Konflik: Bagaimana kehidupan tokoh utama terancam jika dia tidak menanggapi masalah? Seperti apa perjalanannya saat dia mengatasi tantangan ini?
  3. Dialog: Orang akan tertarik pada scene dialog dalam sebuah cerita. Ini adalah dasar dari komunikasi, dua orang yang berbicara satu sama lain. Kita juga tertarik pada dialog yang natural karena lebih membumi dan mudah untuk dipahami.
  4. Solusi: Akhirnya, produk kita diperkenalkan sebagai solusi terhadap masalah yang dialami sang karakter. Kemudian kredibilitas produk ditingkatkan dengan menampilkan statistik berbentuk angka (Misalnya, 70% wanita menggunakan produk ini karena sudah merasakan manfaatnya).

Kisahnya tidak harus dramatis, hanya harus menarik bagi target pemirsa. Di sinilah pentingnya riset pasar.

3. Copy Percakapan
Dalam gaya copywriting semacam ini, kita menulis seolah-olah ada percakapan antara dua orang: copywriter dan prospek.

Gaya percakapan ini tak ubahnya seperti seorang salesman yang duduk untuk makan siang bersama seorang pelanggan dan berbicara melalui presentasi penjualan. Ini adalah pendekatan langsung yang pada dasarnya coba mengatakan:

“Saya tahu bagaimana perasaanmu. Saya merasakan hal yang sama. Itu semua berubah ketika saya menemukan x, y dan z.”

Kita tidak harus menjadi copywriter yang terasah untuk membuat salinan percakapan yang efektif. Seringkali hanya dibutuhkan logika dan semangat untuk membuat apa yang dipromosikan seolah nyata

Bahkan, kita dapat menggunakan percakapan sungguhan tentang suatu produk, kemudian dirapihkan dan diberi bumbu agar menarik.

4. Copy Imajinatif
Dalam lagu “Imagine”, John Lennon meminta kita untuk membayangkan tidak ada surga atau neraka, tidak ada negara, agama atau perang, ia menggunakan alat persuasi yang efektif: IMAJINASI.

Kita dapat meminta target pemirsa untuk membayangkan suatu cara tanpa rasa sakit untuk menurunkan berat badan, atau bagaimana rasanya menjadi seorang penulis traveling yang sukses.

Salinan imajinatif biasanya dimulai dengan kata-kata seperti ‘bayangkan…’, ‘tutup mata Anda..’, ‘berpura-pura lah sejenak..’, atau ‘temukan..’ di paragraf pertama tulisan.

Dalam contoh ini, kita diminta untuk membayangkan hidup dengan cara tertentu – untuk berpura-pura seperti apa rasanya hidup dalam mimpi kita, apa pun impian itu.

Kemudian copywriter melukiskan gambaran untuk mencapai kehidupan ideal melalui produk yang ditawarkan.

Kamu pasti familiar dengan gaya penulisan ini pada iklan Mei***ta

5. Copy yang Paaanjang
Premis mendasar di balik jenis copy semacam ini adalah “Semakin banyak kita memberi info, semakin banyak kita menjual.” Iklan yang panjang terbukti memiliki konversi yang baik.

Mengapa begitu?

Tidak seperti percakapan langsung dengan sales, iklan tulisan hanya memiliki satu peluang untuk mengonversi pembaca. Jika kita berada di depan pembaca, kita harus menjelaskan semuanya.

Ambil contoh copy pada Google Analytics.

Halaman demi halaman fakta dan manfaat disajikan karena preposisi ini memang tidak sederhana – target market pada umumnya akan mengajukan banyak pertanyaan. Akan lebih baik jika copy yang tersedia mampu mengantisipasi pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan menjawabnya dengan baik.

Tapi ingat, jika kita mengikuti aturan dasar konten pemasaran yang baik, ingatlah bahwa kita tidak harus menyajikan semua fakta dan manfaat sekaligus di muka. Kita dapat menyampaikan presentasi selama beberapa minggu melalui autoresponder email, atau perpustakaan konten berbasis membershi

Dengan cara ini, kita mengubah salinan panjang menjadi cuplikan pendek yang mudah dicerna.

6. Copy yang Puitis
Kahlil Gibran, atau WS Rendra mampu membuat tulisan yang sangat puitis, namun bukan seperti itu puitis yang kami maksudkan.

Tujuan kita bukanlah meyakinkan orang bahwa kita pandai dan memiliki jiwa seni, namun lebih kepada penyampaian informasi yang menjual.

Pada prinsipnya iklan adalah media komunikasi untuk berjualan, namun berjualanlah dengan gaya. Gunakan bakat puitis yang terpendam untuk menghasilkan copy yang tidak hanya menjual, namun juga bernilai seni. Menggunakan cerita untuk menyampaikan solusi yang akan terus diingat.

7. Copy dari CEO
Satu fakta yang diketahui secara umum – testimoni pihak ketiga dapat membantu kita menjual produk.

Namun menempatkan argumen penjualan kita sebagai komunikasi langsung antara pendiri perusahaan dan pelanggannya juga sangat membantu.

Pendekatan down-to-earth ini menciptakan kesetaraan. Menyatakan kepada pelanggan bahwa CEO produk ini bukan seseorang yang tak tersentuh dan hanya peduli pada keuntungan. CEO ini adalah orang yang sangat ramah, mudah didekati, dan sangat peduli pada kita.

Jeff Bezos dari Amazon adalah contoh yang luar biasa:

Perhatikan bahwa surat ini adalah sebenarnya percakapan yang gamblang: ini pernyataan sederhana tentang fakta dan manfaat antara dua orang: Jeff dan Anda.

8. Copy yang Jujur
Beberapa jenis copy menjelaskan kebenaran yang buruk tentang suatu produk. Pendekatan ini tidak dimulai dengan hal-hal terbaik dari produk kita, melainkan dari hal-hal buruknya.

Saat menjual mobil bekas, misalnya, kita mungkin menunjukkan kemungkinan adanya perbaikan yang perlu dilakukan – kampas rem tipis, transmisi bocor, setir yang goyang, dan dasbor yang tidak berfungsi – baru kemudian kita menyebutkan adanya jok kulit premium grade, sistem stereo JBL, sunroof, ban baru dan mesin turbo.

Yang kita coba katakan sebenarnya adalah mobil ini bagus namun butuh perawatan. Bahkan kita bisa mengatakan, “Hanya untuk yang mengerti mobil”

Satu hal yang pasti dari kejujuran ini adalah calon pembeli akan mempercayai kita. Sedemikian percayanya sehingga ketika kita menyebutkan poin-poin positif dari mobil tersebut, mereka akan langsung mempercayainya.

9. Copy Superlatif (baca: Lebay)
Adakalanya kita membuat klaim yang superlatif.

Klaim seperti ini:
“Obat revolusioner dari Papua ini bisa menyembuhkan lebih dari 99 jenis penyakit berat.”
“Produk diet yang paling diburu di online store tahun 2018”
“Beli sekarang juga karena Senin harga naik”

Tetapi kita hanya dapat membuat klaim superlatif tersebut jika kita memiliki bukti untuk mendukungnya. Bisa dalam bentuk statistik, testimoni, atau penelitian – atau lebih baik tiga-tiganya.

Masalah dengan copy superlatif adalah seringkali sulit untuk membuat klaim superlatif yang tidak berkesan mengada-ada. Jadi jangan terlalu sering menggunakan jenis copy semacam ini.

10. Copy Penolakan
Copy penolakan tidak menggunakan pendekatan yang konvensional, melainkan menggunakan copy yang seolah mencegah orang agar tidak menggunakan produk kita.

Jenis copy ini merupakan tantangan langsung bagi jenis pemirsa yang menyukai gagasan eksklusifitas. Hanya sekelompok orang eksklusif yang dapat menggunakan suatu produk.

Konsep ini digunakan di awal kemunculan Handphone OnePlus. Untuk meningkatkan brand image dari produk keluaran China ini, hanya orang-orang terpilih yang mampu memilikinya. Distribusi dibatasi dan hanya orang terundang yang dapat membelinya melalui online. Setiap pemilik handphone OnePlus dapat mengundang temannya untuk membeli handphone serupa, meningkatkan nilai eksklusifitas dari pemilik brand.

Pendekatan ini juga memanfaatkan naluri manusia untuk pengakuan kesetaraan, menjadi bagian dari suatu kelompok. Kita jadi berpikir, “Berani-beraninya bilang gue gak layak untuk pake brand itu. Gue tunjukin siapa gue!”

Pada akhirnya…
Pada akhirnya, copy yang hebat seringkali merupakan gabungan dari beberapa teknik ini ke dalam satu iklan.
CEO sebuah perusahaan menulis surat penjualan percakapan yang dibangun di seputar cerita tentang hasratnya terhadap produknya sendiri.

Seorang copywriter menulis iklan penolakan panjang yang menjelaskan mengapa hanya orang-orang tertentu yang menerima undangan untuk makan di suatu restoran eksklusif.

Atau penjahit Savile Row menulis surat penjualan yang sederhana namun elegan tentang jasnya, yang telah dikenakan oleh raja dan presiden.

Ini adalah seni dan ilmu dari copywriting, yang layak dikuasai oleh digital agency jakarta.

LIhat copy bagus baru-baru ini?
Tulis di kolom komentar yaa

Share this :

Recent Post

Written by:

A seasoned digital practitioner with more than 12 years of progressive experiences in the Creative and Digital industry, serving as Designer, Game Designer /Programmer, Web Analyst, Project Manager, Creative Development Manager, Head of Online Services, and Managing Director.